• Grab Ambil Alih Operasional Uber di Asia Tenggara

    Grab Ambil Alih Operasional Uber di Asia Tenggara

    Kabar soal niatan Grab mengambil alih operasional Uber di Asia Tenggara sudah terendus sejak awal 2018. Sempat tak terdengar, kini rumornya semakin kencang berembus.

    Dua sumber dalam mengatakan, Uber ingin mengumpulkan duit dari penjualan operasionalnya di Asia Tenggara. Dengan begitu, Uber bisa menggelar saham perdana alias initial public offering (IPO) dengan sukses tahun depan.

    Sejak di bawah kepemimpinan CEO Dara Khosrowshahi, fokus Uber memang lebih mengarah ke peningkatan profit dan stabilitas perusahaan. Pasalnya, laporan terakhir menyebut kerugian Uber melonjak 61 persen sepanjang 2017 menjadi 4,5 miliar dollar AS atau setara Rp 60 triliun.

    Hal ini tak lepas dari reputasi buruk Uber menyusul bertubi-tubi peristiwa ketika masih dinakhodai Travis Kalanick. Jika terus begini, rencana Uber untuk IPO dan mengumpulkan lebih banyak dana segar bakal tertunda.

    Uber pun melancarkan beberapa strategi, salah satunya bermitra dengan beberapa pesaing lokal yang kuat di beberapa negara. Misalnya menjual bisnis mayoritasnya ke Didi Chuxing di China dan Yandex di Rusia.

    Grab disebut-sebut memanfaatkan strategi baru Uber untuk menegaskan dominasinya di Asia Tenggara. Apalagi, Grab dan Uber sama-sama didanai SoftBank sehingga bisa dibilang mediasinya lancar.

    Dalam konferensi pers di San Francisco, AS, Dara Khosrowshahi mengatakan, kompetisi dengan pemain lokal memang sulit. Mau tak mau ia harus mengambil jalan untuk merangkul para pemain lokal daripada adu kekuatan lantas tergerus.

    “Jika kami berkompetisi dengan dollar yang sama dengan pemain lokal, seperti membayar sopir dengan harga sama dan menghimpun penumpang yang sama, kami cenderung menang. Kami punya brand, teknologi, dan jaringan yang lebih baik,” katanya.

    “Tetapi, untuk beberapa pasar, seperti China dan Rusia, ini tak berlaku. Jika satu-satunya alasan kami bertahan di pasar itu adalah untuk menghamburkan duit, ini bukan alasan yang benar,” katanya , Senin (19/2/2018), dari CNBC.

    Hal ini mengindikasikan Uber mulai menerima bahwa tak semua pasar bisa ditaklukkan. Barangkali begitu juga di Asia Tenggara. Kendati demikian, belum ada pernyataan resmi dari Uber dan Grab soal konsolidasi ini. Kita tunggu saja.

0 komentar:

Posting Komentar